Libya lewat sejarah dan hidup nyata
Gerbang pertama LibyaSerpihan batu yang berserakan, gumpalan bukit-bukit kecil yang berjejeran, melukiskan berbagai macam bentuk peninggalan Romawi kuno yang hingga saat ini masih di pelihara, bahkan dijadikan sebagai tempat rekreasi utama bagi para pendatang.
Perjalanan sejarah terus mengajak manusia untuk selalu aktif mencari data kebenaran dari setiap kejadian, kali ini penulis berusaha menuangkan data sejarah Libya secara gamblang, ya walaupun masih terdapat kekurangan yang lazim dilengkapi. Data ini nantinya akan mengungkap sekelumit kejadian yang telah dan sedang berlangsung di Libya, serta memberikan gambaran kepada para pembaca akan keadaan nyata kehidupan rakyat Libya, penulis ucapkan selamat membaca..
Geografis dan Historis
Ketika merujuk pada peta dunia maka akan didapati Negara Libya terletak di kawasan utara benua Afrika , berbatasan dengan laut tengah, mesir disebelah timur, sudan di tenggara, chad dan Niger di selatan, serta al jazair da Tunisia disebelah barat.
Libya ber-ibu kotakan Tripoli, yang terdiri dari beberapa pusat kota, yaitu Tripolitania, Fezzah, dan Curenaica. Libya juga akrab di panggil dengan sebutan Negeri hijau, yang memang Negeri ini di kelilingi oleh gurun tandus, dan padang pasir. Namun di samping semua itu ternyata tumbuhan hijau pun bersemai di kawasan ini, sehingga dari sinilah penamaan Negeri Hijau itu muncul, apalagi dikala musim semi tiba, tumbuhan rumput yang berlambai-lambai dengan kesegaran hijaunya. Dari sini terbukti bahwa Libya menduduki posisi yang sangat strategis dari segi geografi, sehingga dapat dikatakan bahwa Libya adalah negeri gurun hijau.
Nama “Libya” berasal dari bahasa mesir ” Lebu” sebutan bagi orang-orang barbar yang tinggal disebelah barat sungai Nil, yang kemudian diadopsi oleh bahasa yunani sebagai ” Libya”. Pada zaman yahudi kuno istilah ini memiliki arti yang lebih luas, mencakup seluruh Afrika utara di sebelah barat Mesir, dan kadang ditujukan untuk seluruh benua Afrika.
Menurut fakta sejarah sebelum menjadi Negara independen, Libya merupakan salah satu wilayah kekuasaan khalifah islamiah sejak invansi dakwah Islam ke kawasan utara Afrika yang kemudian dikenal dengan Arab Barat. Kondisi ini berlangsung sampai masa pemerintahan turki utsmani berkuasa ( abad 16-20 M ).
Secara gamblang penduduk yang bermukim di Libya terdiri dari tiga etnis, pertama: etnis asli barbar ( keturunan kaum tawariq) atau bangsa arab yang datang sejak abad ke-7 M, kedua: etnis Turki dan Albania yang datang pada masa kekuasaan Turki utsmani, dan ketiga: etnis Italy yang datang sejak masa penjajahan Italy atas Libya tepatnya pada tahun 1911 M.
Pada pemerintahan turki utsmani Libya tumbuh dengan pesat, apalagi ditambah dengan hadirnya suatu gerakan oposisi yang bersifat sufistik dan perjuangan politik, gerakan tersebut adalah Tarekat sufi Sanusiah. Pada kenyataannya kelompok ini menjadi suatu gerakan oposisi yang sangat kuat, yang memang juga termasuk gerakan sosial keagamaan dan politik .
Di tahun 1911 M Libya mulai di gerogoti serta di jajah oleh para penguasa Italy, dengan masuknya pasukan Italy di pinggiran kota Libya serta terus bercokolan di kawasan itu, bahkan dengan melontarkan tekanan-tekanan militer terhadap masyarakat Libya yang bertujuan merebut kekuasaan Libya dari tangan Turki utsmani.
dalam perjalanannya, penjajahan yang di luncurkan oleh penguasa Italy tersebut tidaklah semulus dengan apa yang mereka harapkan, banyak perlawanan yang cukup sengit dari rakyat Libya, terutama mereka yang bergabung dalam gerakan Sanisiah, perlawanan tersebut berupa penekanan kaum penjajah dengan aksi perang gerilya, seperti yang di komandoi oleh syahid Umar mukhtar yang sempat bikin gerah kaum penjajah Italy dengan berbagai kerugian yang mereka tanggung, yang kemudian berakhir pada eksekusi Umar mukhtar di tiang gantungan oleh penjajah Italy .
perjuangan rakyat Libya tidak berhenti sampai disitu, mereka terus mengadakan perlawanan terhadap kaum penjajah sampai mereka meraih kemerdekaan yang diiringi dengan berakhirnya perang dunia ke-2 setelah isu kolonialisme menjadi tidak popular lagi, dan banyak sanggahan oleh masyarakat dunia serta mendapat perlawanan sengit dari Negara-negara terjajah.
Kemerdekaan Libya dengan di deklarasikannya Negara monarki Libya pada 24 September 1951 dengan lagu kebangsaan Allahu akbar oleh raja Idris I, beliau merupakan cucu dari pendiri gerakan as-Sanusiah, atas bantuan inggris dan soviet serta pengakuan dari PBB, Libya pun mengangkat bendera hijau sebagai lambang kemerdekaannya.
Bermula dari kepemimpinan raja Idris inilah Libya mulai mengembangkan sayapnya dengan Negara-negara tetangga baik barat maupun dunia Islam secara menyeluruh. Ditambah lagi pada saat ditemukannya sumber minyak Libya sekitar tahun 1953, dan dimualinya eksploitasi pada tahun 1956, dan Libya mulai melakukan aksi penjualan minyak ke eropa sejak tahun 1967.
Secara lebih mendasar ekonomi Libya lebih bersandar pada hasil minyak bumi dari pada sumber lain seperti pertanian, hasil laut, pertambangan selain minyak, dan perdagangan. Melalui hasil minyak inilah perkembangan Libya nampak begitu pesat, dapat disaksikan dari keberlangsungan hidup masyarakat yang samakin mapan, pembangunan yang terus bergilir di setiap tempat, dan perkembangan lainnya.
Kepemimpinan Muammar Qaddafi
Profil Muammar Qaddafi
Ternama Muammar Abu Minyar Al qaddafi lahir pada 1924 di daerah gurun pasir sirte. ibunya seorang yahudi, maka secara otomatis beliau tergolong dalam etnis yahudi. Namun kemudian ia mulai memeluk Islam di usianya yang ke-9 tahun.
Mula-mula Ia menempuh jenjang pendidikan SD tradisional yang religius dan bersekolah pada lembaga pendidikan Sebha di Fezzan dari 1956 s/d 1961. Qaddafi dan sekelompok teman-temannya menjadi pemimpin utama dari sebuah kelompok revolusioner yang kelak kemudian merebut kekuasaan Libya.
Tokoh idolanya adalah Gamal Abdul Nasser, seorang Negarawan Mesir yang terkenal dengan ide-ide sosialisnya tentang persatuan Arab dan perlawanannya terhadap Barat.
Pada 1961, Qaddafi dikeluarkan dari Sebha karena aktivitas politiknya, namun kemudian ia masuk di Universitas Libya dan lulus dengan nilai yang sangat baik. Pada 1963 ia masuk Akademi Militer di Benghazi bersama beberapa rekan militannya, dan ia pun membentuk kelompok rahasia dengan tujuan menjatuhkan monarki yang pro-Barat.
Pada 1965 setelahnya lulus dari Akademi Militer, ia dikirim ke Britania (Inggris) untuk mengikuti latihan militer lanjutan dan kembali pada 1966 sebagai seorang perwira dalam Korp Sinyal.
Qaddafi memiliki delapan anak, tujuh diantaranya laki-laki, putra yang paling tua Muhammad Qaddafi menjadi ketua komite olimpiade Libya. Putra kedua, Al-Saadi Qaddafi menjabat sebagai Ketua Federasi Sepak Bola Libya yang bermain di tim Seri-A Perugia dan juga sebaik artis film. Satu-satunya anak perempuannya Ayesha Qaddafi berprofesi sebagai pengacara yang tergabung dalam tim pengacara Saddam Hussein. Bahkan beliau juga memiliki saham sekitar 7,5% di klub sepak bola Italia Yuventus, namun tidak banyak yang tahu masalah tersebut.
Sosial dan Politik Libya
Sesuai data terkini penduduk Libya berjumlah 5.426.300 jiwa yang mayoritas bermukim di dua perkotaan besar ” Tripoli dan Banghazi”, dan sebagian lagi bermukim di pinggiran pesisir Libya. Penghasilan yang menjadi tonggak kehidupan masyarakat Libya adalah hasil perminyakan, sebagian lagi ada yang berprofesi sebagai sopir taxi, dan sebagian kecil ada yang terus menggeluti usaha kecil menengah.
Kondisi sosial Libya akhir-akhir ini seakan terasa berubah dengan adanya hubungan baik antar Negara tetangga “Eropa”, perubahan tersebut sangat mencolok dalam hal adat istiadat, terutama pakain. Jangan heran walaupun masyarakat Libya yang mayoritas muslim, namun banyak dari kaum hawa yang berpakaian ala kadarnya alias kurang bahan, tapi ingat hanya sebagian kecil saja..
Faktor utama munculnya perubahan tersebut adalah masuknya barang imporan dari luar terutama eropa yang berupa pakaian-pakaian nyleneh, bahkan tidak sesuai dengan ketentuan syariat islam, namun ya rasa pingin mencoba pun hinggap di jiwa para gadis Libya sehingga mereka pun mulai mencoba satu demi satu pakaian asing itu, bahkan mereka pun rela menanggalkan pakaian muslimahnya dan menggantinya dengan pakaiaan yang lebih gaul.
Dari sisi adat istiadat yang juga lumayan unik dan banyak disoroti oleh para pendatang adalah adat pernikahan yang sangat rumit, artinya kursi pelaminan tidak bisa didapati dengan secara mudah. mulai dari persyaratan nikah yang sangat berbelit-belit, mana yang harus punya uang banyak, mempersiapkan house, harus sudah punya karir tetap, sehingga keadaan itu membuat para bujang and gadis Libya banyak yang terlambat nikah alias ngejomblo, semua itu disebabkan karena sistem adat para nenek moyang mereka yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh rakyat Libya…
Dari aspek politik, Libya sejak merdeka telah mengalami tiga perubahan bentuk pemerintahan, pertama: bentuk Monarki ( Kerajaan ), kedua: Republika, ketiga: Sosial Republik. Dan dalam rentang sejarahnya selama 58 tahun sejak merdeka hingga sekarang pun politik Libya banyak mengalami pasang surut, hubungan yang awalnya sangat baik dengan barat (Inggris dan Amerika) dimasa raja Idris, setelah revolusi ternyata Muammar qaddafi bersama 12 anggota dewan revolusinya menginginkan kiblat politiknya ke soviet.
Secara langsung konsekwensi besar yang harus dihadapi oleh para Revolusioner adalah harus kontrak serta memusuhi Inggris dan Amerika, dengan bukti segala kepentingan dua Negara tersebut di depak dari Libya, serta ditambah lagi dengan aksi-aksi terorisme dan penindasan terhadap kaum oposan yang dilakukan Libya menurut kaca mata serta tuduhan Amerika dan Inggris, keadaan itu semakin memperuncing hubungan Libya dengan kedua Negara tersebut.
Sehingga dalam perkembangannya berbagai tuduhan beruntun selanjutnya diarahkan ke Libya, mulai aksi pengeboman pesawat Lockerbie, pembunuhan polisi Inggris dari gedung kedutaan Libya di London, mensponsori terorisme dan aksi revolusi Negara-negara di Afrika dan Asia, mengembangkan proyek senjata biologi dan kimia pemusnah massal, sampai pada pembelaan terhadap palestina yang nyatanya merugikan sekutu amerika sendiri yaitu Israel.
Semua itu berujung dengan serangan terhadap Libya pada 1986 serta keputusan embargo PBB dan Amerika terhadap Libya pada 1989 sampai 90-an yang mengakibatkan terisolasinya Libya dari pergaulan dunia.
Perkembangan Akademik- LibyaSalah satu aspek yang tidak dapat di telantarkan dalam suatu tatanan Pemerintah adalah aspek Pendidikan. Pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan merupakan salah satu proyek utama Pemerintah Libya dalam mencapai kemajuan Negara.
Proyek pengembangan akademik ini tertuang dengan adanya paduan sistem pembelajaran dengan Negara luar , seperti prancis, Inggris, Belanda. Dan juga dengan Negara kawasan Asia seperti suriah, singapura, bahkan sampai ke Indonesia.
Dari sisi internal, Libya merupakan salah satu Negara pusat pengembangan ilmu pengetahuan Islam dan umum, dengan berdirinya beberapa universitas-universitas besar, diantaranya: universitas al Fateh, universitas Qairus, universitas asmarya, dan kulyah dakwah islamiah. Dari keberadaan universitas tersebut muncullah generasi-generasi 2 in 1, artinya disamping fokus pada pembelajaran agama, para mahasiswa pun dituntut untuk mengetahui kulyah umum dalam pengembangan ilmu pengetauan ( Intelektualita).
Kulyah dakwah Islamiyah
Kulyah ini berada di bawah naungan persyarikatan dakwah islamiah-Libya yang konon persyarikatan ini sangat berperan dalam perjuangan Libya, terutama pada saat terjadinya perseteruan antara Libya dengan Amerika yang berujung embargo terhadap Libya .
Atas nama misi dakwah, pendidikan, dan kemanusiaan persyarikatan pun menjalankan aksinya, dan pada kenyataannya memang benar Libya tetap bisa bergaul alias ngak kehilangan suing di mata dunia Internasional walau dalam skala terbatas..
Kulyah dakwah islamiah pada awalnya di pegang langsung oleh qaid Muammar qaddafi, namun sekarang telah diambil alih oleh Dr. Muhammad Syarif. Kulyah dakwah yang didirikan sekitar tahun 1974, tepatnya 2 tahun setelah terbentuknya persyarikatan dakwah islamiah di tahun 1972. Mahasiswa di kampus ini tidak selumrah kampus-kampus lain yang berbeasiswa, semua mahasiswa di kampus ini adalah mahasiswa mancanegara or asing, bahkan penduduk Libya asli tidak diperkenankan untuk kulyah di kampus dakwah ini.
Tercatat bahwa mahasiswa yang ada saat ini berasal dari 80 negara. Sebelumnya mahasiswa dari kawasan afrika lebih dominan, namun sekarang sudah sedikit berimbang dengan mahasisiwa asal Asia dan Eropa.
Kulyah dakwah merupakan salah satu kampus yang menyediakan beasiswa secara total bagi seluruh mahasiswanya, mulai dari perjalanan menuju Libya serta kepulangan mereka ke Negara masing-masing (biaya tiket + Visa).
Adapun fasilitas kampus yang telah disediakan berupa tempat tinggal or imarah yang cukup mewah, setiap kamarnya berjumlah 3 orang dengan berbeda Negara, fasilitas lain berupa makanan yang juga ditanggung oleh pihak kulyah dengan menu berfareatif, untuk makan biasa 3 kali sehari . menu pagi hari dengan roti yang berisi ikan tuna + Teh or Kopi , menu siang berupa nasi dan kuskusi (makanan faforit orang Libya) dengan lauk ayam, daging kambing, dan unta, plus hidangan pencuci mulut berupa buah-buahan dan minuman (ashir ). Untuk menu malam berupa makanan khas Libya yaitu makrunah , Spageti ( mie ) fashaliah ( kacang-kacangan ).
Subhanallah ternyata ngak cukup disitu, mengenai fasilitas perkuliahan berupa buku kulyah ( kitab muqarar ), semuanya sudah disediakan secara cuma-cuma oleh pihak kulyah. Buku-buku tersebut dibagikan setelah para mahasiswa selesai melaksanakan ujian qabul ( lisan dan tulis ), sampai menjelang perkuliyahan berlangsung.
Disampaing fasilitas yang tersebut diatas, setiap bulannya para mahasiswa mendapatkan uang saku sesuai dengan tingkat atau jenjang kulyah. Untuk tingkat ma’had ( persiapan bahasa) mendapat 20 DL, mahasiswa tingkat S1 mendapat 30 DL, dan untuk mahasiswa jenjang S2 mendapat 50 DL. Setiap per-satu dinar bernilai Rp.7.500 , ya cukuplah untuk biaya harian.
Semua statemen diatas memberi gambaran betapa besar perhatian Pemerintah Libya dalam hal pendidikan baik untuk pelajar dalam negeri dengan disediakan dua universitas besar yaitu universitas al Fateh, dan universitas qairus, sedang bagi pelajar asing disediakan universitas khusus yaitu Kulyah dakwah islamiah..
Lewat sejarah beriring gambaran kehidupan nyata masyarakat Libya, serta perkembangannya tahun demi tahun menjadikan Negara ini makmur adil dan sejahtera, dengan pemerintahan yang absolut serta pertumbuhan ekonomi yang sangat menetukan kemajuan, akhirnya Libya dalam kurun waktu yang sangat singkat dapat merubah gaya hidup mereka dengan lebih makmur.
Semoga pengenalan Libya diatas dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian, sekaligus sebagai bukti terhadap kondisi nyata Negeri hijau ini, sehingga dapat menghasilkan pemahaman yang benar terhadap perkembangan yang sedang berjalan.
Referensi:
1. Referensi utama di unggah dari Wikipedia bahasa Indonesia, Ensikopledia, Encarta, dan suara-muslim.com
2. Makalah yang berjudul ” Mengenal Libya lebih dekat” disampaikan pada acara forum ta’aruf ( Fortasi ) Mahasiswa Kulyah dakwah Libya.
3. Majalah Ukhuwah terbitan KKMI-Libya
4. Reportase bersama masyarakat Libya
LIBYA: NEGERI MUSLIM Di Bawah Diktator Agen Barat
Posted on April 10, 2008 by Wisnu Sudibjo
Hampir sama dengan Irak, Libya adalah negeri Muslim yang sering dituduh oleh Barat, terutama AS, sebagai negara yang termasuk ke dalam “Poros Setan” dan “pendukung teroris”. Kalau Saddam Hussein di Irak dijadikan tokoh bulan-bulanan oleh Barat, pemimpin Libya, Kolonel Muammar Khadafi pun nasibnya tak jauh beda. Kedua pemimpin ini sering digambarkan sebagai monster yang menakutkan. Kedua negara juga memiliki kemiripan, yakni memiliki sumber alam minyak yang cukup besar. Meskipun tidak sebesar Irak, untuk negara-negara Afrika, Libya memiliki cadangan minyak yang besar. Bukan kebetulan, kalau kedua negara ini pernah sama-sama diserang oleh AS dan diembargo atas keputusan resolusi PBB yang disponsori oleh AS. Kedua orang ini pun, secara keliru, sering dikaitkan dengan Islam.
Upaya mempersetankan (demonologi) Libya, terutama oleh AS, telah dimulai ketika Khadafi menumbangkan rezim monarki Raja Kamal Idris tahun 1969. Raja ini merupakan boneka AS dalam pemerintahan Libya. Saat memerintah, dia mengizinkan negara adidaya itu untuk mengontrol ekonomi dan politik negara tersebut. Sebaliknya, Khadafi diduga keras merupakan agen Inggris (ingat, bahwa Khadafi merupakan lulusan pendidikan Inggris) yang ingin menghilangkan pengaruh AS di Libya. Karena itu, kudeta yang dilakukan oleh Khadafi diduga didukung oleh Inggris. Kejengkelan AS semakin menjadi-jadi saat Libya membatalkan berbagai perjanjian dengan AS dan membubarkan fasilitas militer asing di Libya. Apalagi, Muammar Khadafi sering menyuarakan sikap anti-AS serta membantu kelompok-kelompok yang menentang kepentingan AS. Contohnya adalah dukungan Libya terhadap Nur Misuari di Filipina dan GAM di Aceh. Namun demikian, melihat persaingan Inggris dan AS untuk menjadi adidaya dunia, dukungan-dukungan kepada kelompok tersebut bisa menjadi alat bagi Inggris untuk menanamkan pengaruhnya di daerah konflik tersebut, antara lain lewat Khadafi.
Upaya ‘setanisasi’ Libya pun terus berlanjut. Libya dituduh berada di balik Tragedi Ledakan Pesawat Lockerbie. AS, Inggris, dan Prancis pada 21 Januari 1992 mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengesahkan Resolusi 731 yang menuntut agar Libya mau menyerahkan para tersangka. Dua warga Libya, Lamen Khalifa Fhimah dan Abdel Basset Ali al–Megrani, kemudian dituduh sebagai tersangka pelaku peledakan Pesawat Pan Am tahun 1988 di atas Lockerbie. Karena menolak, PBB kemudian menjatuhkan resolusi yang mengembargo negeri ini.
Sebelumnya, pada masa pemerintahan Ronald Reagen, AS menuduh Libya terlibat dalam pengeboman sebuah diskotik di Berlin. Saat itu, seorang pelayan yang berwarga negara AS terbunuh. Dengan alasan ini, AS melancarkan serangan udara atas dua kota utama Libya, Tripoli dan Benghazi. Serangan tanggal 15 April 1986 ini telah menyebabkan terbunuhnya 400 orang sipil; 104 di antaranya anak-anak, 85 wanita, 33 orang cacat, dan 41 orang tua. Padahal, keterlibatan Libya dalam pengeboman itu tidak pernah terbukti. Pengebomnya ternyata memiliki hubungan dengan koneksi Syiria yang kemudian ditahan dan mengakui perbuatannya. Apakah AS merasa bersalah dan kemudian meminta maaf? Tentu saja tidak!
Setanisasi Libya dan Khadafi tersebut dalam media massa ataupun pernyataan pemerintah Barat sering dikaitkan dengan Islam. Ada kesan seolah-olah Khadafi adalah pempimpin Islam dan Libya adalah negara yang didasarkan pada Islam, paling tidak, Libya sering disebut sebagai negara sosialis-Islam. Tentu saja kemudian, setanisasi terhadap Libya dan Khadafi berujung pada penjelek-jelekan Islam. Apalagi, secara keliru sering digambarkan bahwa Khadafi memperjuangkan syariat Islam. Ujung-ujungnya kemudian adalah penjelekan terhadap syariat Islam. Lalu, benarkah Khadafi merupakan cerminan dari pemimpin Islam?
Latar Belakang dan Sejarah
Wilayah Libya, sepanjang sejarahnya, banyak mengalami masa pendudukan dari luar: Phoenician, Carthaginian, Romawi, Yunani, Vandals, Byzantines. Sementara itu, Islam masuk ke Libya lewat penaklukan tentara Islam dari Arab pada abad ke-7 M. Islam kemudian diterima dengan sukarela oleh masyarakat Libya, bahkan mayoritas rakyat Libya beragama Islam dan mengadopsi bahasa Arab sebagai bahasa sehari-hari rakyat Libya. Sampai abad ke-16 Libya masih merupakan bagian dari Khilafah Ustmaniyah. Tahun 1911, penjajah Itali masuk ke Libya dan menjadikannya sebagai salah satu daerah koloninya.
Pada tahun 1943, Itali mengadopsi nama Libya (nama yang digunakan oleh orang Yunani untuk menyebut daerah Afrika Utara, kecuali Inggris), sebagai nama resmi daerah koloninya. Wilayah Libya meliputi Provinsi Cyrenaica, Tripolitania, dan Fezzan. Raja Idris, pemimpin daerah Cyrenaica, memimpin perlawanan rakyat Libya terhadap penjajah Itali sepanjang Perang Dunia I dan II.
Dari tahun 1943 sampai 1951, Tripolitania dan Cyrenaica berada di bawah jajahan Inggris, sementara Fezzan berada di bawah pengontrolan penjajah Prancis. Tahun 1944, Raja Idris kembali dari pengasingannya di Kairo, Mesir, dan kembali di Cyrenaica. Di bawah perjanjian damai dengan Sekutu, Itali menarik diri dari Libya.
Pada tanggal 21 November 1949, Sidang Umum PBB mengeluarkan resolusi yang mengumumkan Libya harus menjadi negara merdeka sebelum tanggal 1 Januari 1952. Raja Idris saat itu mewakili Libya dalam negoisasi PBB. Ketika Libya merdeka tanggal 24 Desember 1951, Libya merupakan negara pertama di dunia yang merdeka di bawah desakan PBB. Libya memproklamasikan diri sebagai negara monarki konstitusional di bawah pimpinan Raja Idris.
Berkat penemuan sumber minyak tahun 1959, Libya menjadi negara kaya di dunia dilihat dari perkapita GDP-nya. Padahal sebelumnya, Libya merupakan negara miskin. Sebelumnya, dalam bidang ekonomi, Libya mengandalkan sektor pertanian seperti jelai (makanan rakyat), kurma, zaitun, dan buah-buahanan peras. Meskipun banyak mengalami kerugian akibat embargo yang diterapkan PBB, ekonomi Libya relatif tetap stabil. Hal ini karena Libya masih bisa mempertahankan volume ekspor minyaknya sekitar 1,5 juta barel perhari. Minyak merupakan 90 % sumber devisa negara ini. Tentu saja, minyak Libya mengundang perusahan-perusahan kapitalis yang haus minyak.
Leo Drollas, analisis minyak dari Centre for Global Energy Studies (CGES) di London mengatakan, bahwa Libya mempunyai cadangan 30 miliar barel, 17 miliar barel lebih banyak dari cadangan di Negeria dan 24 miliar barel lebih banyak daripada cadangan di Cina.
Raja Idris memerintah Libya sampai tanggal 1 September 1969 lewat kudeta militer. Rezim baru Libya dipimpin oleh Dewan Komando Revolusi yang membubarkan sistem monarki dan memproklamasikan Negara Republik Arab yang baru. Kolonel Muammar Khadafi menjadi pimpinan Dewan Komando Revolusi yang secara defakto sekaligus sebagai pempimpin negara Libya.
Lewat Dewan Komando Revolusi ini, terjadilah perubahan arah negara Libya. Dengan moto, “Kebebasan, Sosialisme, dan Persatuan,” Libya bersemangat untuk melepaskan diri dari keterbelakangan, mengambil peran aktif dalam kasus Palestina, mempromosikan persatuan Arab, serta menekankan kebijakan domestik yang berdasarkan kesejahteraan sosial, non-eksploitasi, dan pendistribusian kesejahteraan yang sama. Saat itu juga, pemerintah baru ini menuntut pengunduran diri seluruh instalasi militer asing di Libya. Instalasi militer Inggris di Tobruk dan El Adem ditutup pada Maret 1970. Demikian juga fasilitas militer AS di Pangkalan Udara Wheelus dekat Tripoli, ditutup Juni 1970. Pada bulan Juli, pemerintah Libya mengusir ratusan warga Itali serta menutup perpustakaan dan pusat-pusat budaya asing di Libya.
Bertahun-tahun sejak revolusi tersebut, Libya mengklaim dirinya sebagai pemimpin Arab dan Afrika serta berusaha berperan dalam berbagai organisasi internasional. Untuk menunjukkan aspirasinya terhadap keinginan rakyat, kedutaan besar Libya diganti nama menjadi biro rakyat. Biro-biro rakyat, demikian juga lembaga-lembaga sosial, bisnis, dan agama dibuat untuk ekspor “revolusi”-nya Khadafi.
Sejak mengambil-alih kekuasaan pada 1969 lewat kudeta militer, Kolonel Muammar Khadafi telah membentuk sistem politiknya sendiri, yang diklaimnya sebagai gabungan dari sosialisme dan Islam, yang disebut oleh Khadafi sebagai Teori Internasional Ketiga (The Third International Theory). Khadafi membentuk dirinya sebagai pemimpin Revolusi. Selama tahun 1970-an sampai 80-an, dia menggunakan dana minyak untuk mempromosikan ideologinya keluar Libya. Dia juga banyak dituduh membantu tindakan-tindakan terorisme dan subversi di luar negeri. Dukungan Libya terhadap teroris berkurang setelah mendapat sanksi PBB tahun 1992 yang kemudian dibekukan pada April 1999.
Karena kegagalan nasionalisme Arab, Khadafi kemudian mengubah nama negaranya menjadi Great Socialist People’s Libyan Arab Jamahariya atau al-Jumahariyah al-‘Arabiyyah al-Libiyah as-Shabiyah al-Ishtirakiyyah al-Uzma. Khadafi mengklaim negaranya sebagai Negara Jamahariya (Negara Rakyat). Akan tetapi, ini hanya secara teori, yang menyatakan diperintah oleh rakyat lewat dewan lokal. Faktanya, Libya adalah negara diktator militer.
Khadafi dan Gerakan Islam
Khadafi selama ini senantiasa memberangus aktivitas keislamanan yang mengancamnya dengan berbagai cara; antara lain lewat eksekusi, penghancuran rumah, dan hukuman massal. Dia sendiri memiliki hari istimewa untuk menggantung mahasiswa yang dianggapnya melawan dirinya di dalam kampus, yakni setiap tanggal 7 bulan April setiap tahunnya.
Anggapan bahwa Khadafi merupakan cerminan perlawanan ideologi Islam jelas sangat keliru. Khadafi sesungguhnya tidak lebih daripada penganut ideologi sosialisme yang tampak jelas dalam “kitab suci”-nya, Kitab Hijau. Namun demikian, sama seperti pemimpin-pemimpin sosialis Arab lainnya, Khadafi memanipulasi Islam untuk mendapat dukungan dari rakyat Libya yang mayoritas Muslim. Memang, banyak retorika-retorika Khadafi yang sepertinya sejalan dengan Islam. Namun demikian, Buku Hijau-nya membuktikan bahwa dia tidak lebih daripada seorang sosialis. Dia berusaha menggabung-gabungkan ide Islam dengan sosialisme, namun hasilnya adalah tetap saja ide sosialisme yang bertentangan dengan Islam. Bahkan, Khadafi banyak melakukan pembantaian terhadap aktivis Islam yang dia anggap mengancam kedudukannya.
Pada awalnya, sangat kentara Khadafi ingin mendapat dukungan dari umat Islam dan para ulama. Tampak dari kata-katanya yang cukup populer pada saat itu, “Wahai rakyat, koyak-koyaklah semua buku impor yang tidak sesuai dengan (nilai-nilai) peninggalan Arab dan Islam, sosialisme, dan kemajuan.”
Untuk menampakkan citra Islamnya, Khadafi memberangus seluruh peninggalan kolonial Kristen Eropa di Libya; gereja-gereja ditutup, aktivitas misionaris dilarang, serta basis-basis militer Amerika dan Inggris ditutup. Khadafi juga menerapkan sebagian hukum Islam seperti melarang meminum alkohol dan penutupan kelab-kelab malam.
Pemikiran sosialisme lebih tampak pada saat dia menerbitkan Buku Hijau. Buku ini tidak jauh berbeda dengan Buku Merah-nya Mao Tse-tung. Buku ini sendiri terdiri dari tiga jilid: The Solution to The Problem of Democracy (1975); The Solution of The Economic Problem: Socialism (1977); dan Social Basis of The Third International Theory (1979). Khadafi kemudian menjadikan buku ini sebagai bacaan wajib bagi rakyat Libya yang diajarkan di sekolah-sekolah. Khadafi sering mengatakan bahwa bukunya itu didasarkan pada nilai-nilai Islam. Bahkan, dia menyatakan bahwa kaum Muslim harus berpegang teguh pada al-Quran. Padahal, bukunya itu justru memberikan pemecahan yang tidak sesuai dengan Islam. Dalam politik, ia memberikan solusi demokrasi, padahal ide demokrasi yang mendasarkan diri pada kedaulatan rakyat bertentangan dengan Islam. Khadafi sendiri, dalam praktiknya, adalah seorang diktator. Sementara itu, dalam ekonomi, jusru dia memberikan solusi sosialisme yang bertentangan dengan Islam.
Ide-ide ganjilnya semakin tampak. Untuk membenarkan penafsirannya terhadap Islam, dia mengatakan bahwa setiap orang berhak untuk menafsirkan Islam. Atas dasar ini, secara bebas (liberal) dia menafsirkan Islam seenaknya. Khadafi membatasi al-Quran hanya pada masalah individual, sementara dalam masalah sosial, ‘kitab suci’-nya adalah Buku Hijau. Dia juga menyampingkan hukum-hukum syariat yang dikatakannya sebagai ide-ide tradisional. Khadafi juga menolak keotentikan dan kekuatan yang mengikat dari Hadis Nabi saw., mengubah penanggalan Islam, menyatakan berhaji ke Makkah tidak wajib, dan menyamakan zakat dengan jaminan sosial. Zakat kemudian dia anggap bisa diubah-ubah dan bervariasi. Dia juga mengharamkan kepemilikan individu.
Tidak berhenti sampai di sana, Khadafi membentuk komite-komite rakyat untuk mengambil-alih masjid-masjid yang dia katakan tradisionalis. Tidak sedikit ulama ataupun pejuang Islam yang menentang ide-idenya kemudian dia bunuh dan dipenjarakan. Jangankan dengan Islam, dengan Buku Hijau-nya saja, yang mengatakan pengakuan terhadap kebebasan beragama dan demokrasi, Khadafi tidak menjalankannya. Ide kufur Khadafi yang lain yang dia lontarkan dalam pertemuan Arab (Arab Summit) pada April 2001 adalah meremehkan perjuangan al-Quds dan al-Aqsa yang penting. Pengarang Buku Hijau ini mencela negara-negara Arab yang terobsesi untuk membebaskan al-Quds dari penjajahan Israel. Dia berkata, “Kalian memecahkan masalah ini atau kalian tidak, itu hanyalah sebuah masjid dan saya bisa berdoa di mana pun. Tidaklah begitu penting di mana kita tinggal…Itu (al-Quds) juga merupakan tempat suci bagi Yahudi.”
Alat Kolonial Barat
Ada pola umum yang digunakan oleh Barat dalam mencengkeram Dunia Islam. Diantaranya adalah menciptakan penguasa-penguasa boneka yang memerintah negeri Islam. Penguasa ini kemudian diberikan dua orientasi: Pertama, secara terbuka menunjukkan ketertundukannya kepada Barat. Contoh pemimpin seperti ini adalah Raja Fahd, Raja Abdullah, Pemimpin Kuwait, Turki, dan negeri-negeri Islam lain. Kedua, dikesankan anti-Barat namun sebenarnya merupakan agen Barat. Contoh pemimpin seperti ini adalah Saddam Hussein dan Muammar Khadafi. Barat tentu saja berharap, sikap anti-Barat di Dunia Islam bisa disalurkan lewat kepemimpinan agen-agennya ini. Sebab, kalau sikap anti-Barat dipimpin oleh pemimpin yang benar, yakni pemimpin Islam yang sejati, hal itu akan membahayakan kedudukan Barat sendiri. Tidak aneh jika Barat memelihara orang-orang seperti Saddam Hussein dan Muammar Khadafi. Dua tipe agen Barat inilah yang menjadi media imperialisme Barat dan pembunuhan terhadap kaum Muslim. Sebentar lagi, bisa jadi kita menyaksikan serangan AS terhadap Irak. Alasannya adalah untuk menggusur pemimpin yang diktator. Padahal, Saddam Hussein, demikian juga Muammar Khadafi, adalah bentukan Barat. Walhasil, penguasa boneka semacam ini telah menjadi alat imperialisme Barat atas Dunia Islam. [fw]Daftar kepala negara Libya
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Halaman ini menampilkan Kepala Negara Libya sejak tahun 1951.
Daftar isi[sembunyikan] |
[sunting] Raja Libya (1951–1969)
[sunting] Kepala Negara De Facto (1969–Sekarang)
- Muammar al-Qaddafi: 1 September 1969 – Sekarang
[sunting] Kepala Dewan Komando Revolusioner (1969–1979)
[sunting] Sekretaris Jenderal Kongres Rakyat (Kepala Negara Nominal) (1977–Sekarang)
- Muammar al-Qaddafi: 2 Maret 1977 – 2 Maret 1979
- Abdul Ati al-Obeidi: 2 Maret 1979 – 7 Januari 1981
- Muhammad az-Zaruq Rajab: 7 Januari 1981 – 15 Februari 1984
- Mifta al-Usta Umar: 15 Februari 1984 – 7 Oktober 1990
- Abdul Razzaq as-Sawsa: 7 Oktober 1990 – 18 November 1992
- Zentani Muhammad az-Zentani: 18 November 1992 – 3 Maret 2008
- Miftah Muhammed K'eba: 3 Maret 2008 - Sekarang
Lihat pula
- Libya
- Sejarah Libya
- Politik Libya
- Daftar tokoh Libya
- Daftar kepala negara Libya
- Daftar Perdana Menteri Libya


0 komentar:
Poskan Komentar